◄ Vice Versa ►

Showing posts with label Curhat. Show all posts
Showing posts with label Curhat. Show all posts

Saturday, August 13, 2011

Fenomena Girlbanned Indonesia

Dimulai dari gencaran di dunia maya tentang pembicaraan Girlband Indonesia. 7icons, Chibi, Minni, dst. Di luar Indonesia, negara 'asal mula' girlband pencekok muda mudi sini, adalah macam SNSD dan saudari saudarinya. Dan maaf, saya bukan penggemar kesemuanya.

Masa bodo ketika mereka tak suka dengan omongan saya ketika saya bilang, itu, band-band itu, adalah band-band sampah. Bagusnya di-'BANNED'.

Masa bodo ketika mereka bilang, mereka mukanya cantik, tubuh langsing, putih, dan bergaya modern. Baiklah, define modern, please... Pakai baju compang camping kurang bahan, Anda bilang modern? Gimme a break! Bagi saya, gaya mereka 'sampah' yang didaur ulang dari negeri korea sana,

Masa bodo ketika mereka bilang, saya kuper. Andai mereka tau, bahaya 'laten' kemunculan mereka adalah berdampak pada mudi mudi saat ini. Lihat saja penampilan mereka, bisa dibilang setipe dan tentu saja meniru. Jika mereka bilang kerudung dan jilbab sebagai suatu gaya kuno, itu karena justru mereka memandangnya dari sisi kuno mereka.

~ Udah gak jaman perang pake senjata, maka mereka berperang menggunakan GAYA. Pathetic.

Friday, December 04, 2009

Bola Salju Bernama Ukhuwah

Seperti halnya sebuah kertas,
ia mudah terkotori oleh sentuhan sedikit saja...
Maka siapkanlah sebuah karet tuk menghapus kekejian kotoran itu,
walau tak menjamin kan menghilangkan bekasnya begitu saja.


==
Sebuah kalimat 'menye-menye' yang jarang sekali saya tuliskan. Namun, pada kenyataannya, itulah yang dihadapi oleh kebanyakan aktivis dakwah baru-baru ini. Saya tidak berbicara tentang saya, tentang Anda, ataupun tentang mereka. Kita sedang berbicara sebuah fenomena.

Terkadang terbersit di benak saya, apalah arti label 'aktivis dakwah' ataupun 'pejuang syariah', jika memahami makna 'ukhuwah' saja terlampau jauh berbeda. Ada yang beranggapan bahwa jalinan pertemanan akan terus berjalan selama kita masih sms-an. Ada juga yang merasa bahwa dia adalah sahabat yang begitu akrab karena setiap ada masalah dia selalu mendengarkan kita curhat. Ada juga yang men-judge bahwa hubungan dengan seorang teman sudah jauh, hanya karena temannya bergaul dengan sang musuh! Ah, entah apa yang terbersit di pikiran saya saat ini... Tuk memahami sebuah Ukhuwah, sungguh sangatlah susah!


Lalu saya teringat sebuah kejadian lama, dimana seorang perempuan sedang duduk sendirian dengan tampang sedih, lalu saya coba hampiri dan memegang pundaknya, dia bilang "terima kasih". Tak ada tanya dan kata di sana, karena saya masih mencoba menyelami apa yang perempuan itu rasa. Dia masih menunduk, sampai mulut saya hampir bertanya, "ada aaaap...." dan suara saya pun terhenti oleh kedatangan seorang lelaki. Entah tak peduli kehadiran saya, lelaki itu duduk di samping perempuan tadi, dan lantas, "Masih sedih honey? Mohon maafin aku..." Serasa hina diri karena perempuan itu akhirnya menganggapku seolah tak ada. Sampai akhirnya ia melihatku, "neng, maaf ya, aku pulang ke kostan dulu." Dan pergi begitu saja...

Ah! Lagi-lagi, ah! Seperti tak punya arti dan kekuatan. Serasa tayangan lambat di mana semua berputar tak karuan, dan suara mengaum-ngaum, "bicaramu takkan didengar, anak muda!"


Kemudian, kedua orang tadi (yang merupakan temanku), datang menghampiri. Mereka meminta maaf dan menjelaskan mereka sedang bertengkar, hanya karena sang perempuan dihubungi oleh seorang teman lama!

Hah! Masalah kecil bagi saya, masalah pelik bagi mereka. Percayalah, takkan kau dengar mereka berdiskusi tentang ideologi, jati diri, dan mau kemana arah bangsa ini.

==
Lalu kejadian lama seperti berulang... Dalam perjalanan pulang, kertas yang hampir polos kembali itu terkoyak, walau sedikit... Sebuah penghapus mungkin bisa menghilangkan kotoran, namun tak mungkin bisa menyambung kembali sebuah sobekan...

Kini, sambil terus memahami sebuah arti ukhuwah, banyak kawan-kawan berlabel 'aktivis dakwah' memberikan porsi mereka tanpa mereka sadari. Pada akhirnya, ukhuwah yang sebenar-benarnya adalah ketika namamu tersebut dalam doa mereka, dan senyum yang takkan pernah bisa kau lihat. Dan, terkadang, nasihat yang paling pedas sekalipun, bisa jadi sahabat terbaikmu...

Ya, warna-warni beberapa tahun belakangan ini, membuat kita menyendiri, karena fenomena itu seperti bola salju. Terus membesar... Hingga menunggu bantuan Sang Mentari tuk mencairkannya kembali...

Ya Rabb, Jagalah terus Hamba-Mu ini...
==
Zetya Gie Hardez


Wednesday, July 18, 2007

Mulutmu Harimaumu

Saya yakin jargon sebuah iklan itu menyindir ke hampir semua perasaan orang. Pun halnya saya, ketika mendengar itu, saya tersenyum sendiri, sambil tarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Fiuuuh! Faktanya, saya tersindir.

Ada beberapa kejadian yang membuktikannya. Isu dan fitnah tersebar kemana-mana. Sampai akhirnya saya kerepotan untuk meluruskannya. Pergi ke sana sini, bicara berulang-ulang, sekedar untuk bicara, “itu semua salah. Jangan diingat. Masalah saya jangan ditambah. Terimakasih.” Dulu, saya memang sering bercerita jauh, dengan harapan teman-teman saya akan memberikan solusi terbaik mereka, setidaknya dengan menjadi pendengar yang baik saja. Cukup dengan itu. Pesan saya, cukup kita bertiga saja yah yang tahu, saya, dirimu, dan Allah, selalu ada disetiap akhir cerita. Tapi toh akhirnya, cerita kemana-mana. Mereka bercerita kepada orang lain dengan pesan yang sama, cukup kita yang tahu. Jadilah itu proses berantai. Jadilah semua orang merasa simpati, empati, kasihan, sedu sedan, dan sebagainya. Banyak pesan yang saya terima. Uchy yang sabar yah... Uchy harus kuat. Uchy ini adalah sedikit cobaan... Uchy ini, uchy itu... *pusing*

Kejadian itu membuat saya mendapat pelajaran luar biasa. Semenjak itu, saya hati-hati kalau bicara. Mengemukakan rahasiapun saya pilih-pilih. Mereka yang saya anggap had a bad track record tidak menjadi daftar orang-orang terpercaya saya. Sampai nanti saya siap untuk belajar percaya lagi. Ini bukan salah mereka, karena ‘harimau ini’ awalnya berasal dari saya. Sesekali menangis membuat merasa bodoh. Seperti saya tidak punya Tuhan saja, yang Maha Setia Menemani. Kita diberikan naluri untuk membedakan antara baik dan buruk, indah dan jelek, benar dan salah. Tapi saya yakin semua ada ukurannya. Semua ada penyatunya, karena manusia diciptakan dengan tujuan yang sama. Dan saya yakin yang mampu mempersatukan semua adalah Allah.

Tuhan, ajarkan saya untuk percaya, bahwa keajaiban itu datang karena usaha. Tuhan, buat kami menyadari keberadaan kami di dunia ini salah satunya adalah sebagai penumpang, agar bisa saling dakwah, saling mengingatkan dalam ibadah
Ketika kata mulai berombak, maka yang keluar adalah kalimat indah penuh berkah.
Ketika perilaku tak cukup satu, maka yang lain akan mengikuti.
Akan saya pajang balon udara di atas rumah.
Yang dengannya saya bisa melihat seisi dunia.
Pojok 69 23.06.07 22:31

Thursday, June 07, 2007

Feels Like Home

Suatu hari saya sengaja tidak membawa motor. Berbekal ongkos tidak seberapa, saya berangkat dengan segala resikonya. Dengan membaca basmalah dan ayat kursi, berharap perjalanan saya ini membawa hikmah. Bagi sebagian orang, mungkin perjalanan ini biasa. Tapi tidak bagi saya. Menyusuri kota dengan berjalan kaki, yang tadinya tubuh dimanjakan dengan kemudahan kendaraan selama beberapa lama, bukanlah sesuatu yang mudah.

Ayo, Ci, you have to be strong. Lawan lemahnya dirimu. Ayo Lawan... Lawan...
Kalimat itu terus-terusan terngiang di kepala. Kalau saya tidak keluar dan berusaha lepas dari semua kemanjaan, yang ada adalah saya akan terus-terusan sakit. Sempat beberapa waktu saya menjadi orang yang begitu tidak berperasaan, tidak peduli akan lingkungan sekitar, serta masa bodo dengan segala keadaan. Banyak sahabat yang sms, tidak saya balas karena kebetulan pulsa pun habis.

Tas selempang yang saya bawa hanya berisikan uang, botol minum, tissue, buku coklat favorit+alat tulis, dan hape+flashdisknya. Sewaktu menunggu bis di perempatan taman, udara masih tenang. Polusi belum banyak. maklum saja, saya pergi pagi-pagi. Tak lama kemudian, bis pun muncul juga. Dan seperti biasa juga, saya memilih duduk di paling depan dekat jendela samping pak supir. Kalau tiba-tiba ramai kan, bisa aman, pikir saya.

Awalnya tujuan saya pergi memang untuk menyusuri kota. Turun di Bambu Kuning, dan inilah awal perjalanan saya.

(Tunggu tulisan selanjutnya)

Monday, May 28, 2007

Salahkah Berubah?

Tu pertanyaan tiba2 aja muncul dan mencuat di kepala tatkala seorang teman berkata, "we 've lost you".

Fren, bagi gw saat ini, perubahan adalah sesuatu yang penting. Yang kudu dilakuin. Kadang sedih juga, ketika kita mengharapkan sahabat kita agar berubah lebih baik, tapi dia malah ngomong, "apa urusan lo?".

Gw kangen dengan sahabat gw. Yang dulu menjadi teman bercerita, ketika sedih gw ngadu sama dia. Ketika seneng gw selalu ajak dia. Di segala kondisi pun gw selalu mengharapkan dan berdoa agar dia terus berubah menjadi lebih baik. Dan suatu ketika, gw harus kehilangan itu. Gw sadar kalau perbuatan gw salah. Dan gw pun nangis setelahnya.

Pernyataan di atas itulah yang buat gw nangis. Tapi dari situ gw jadi mikir, merenung, menyendiri sejenak. Dalem ati gw, bener banget temen gw itu. Karena ketika berubah dulu, gw sempet berpikir bahwa bakal ada kejadian seperti ini. Dan ternyata terbukti.

Seminggu pasca gw hijrah, temen gw sms, "dan mereka2 yang mencintai Allah pula-lah yang akan dekat dengan kita." Dan kata2 itulah yang membuat gw kuat.

Walaupun demikian, bagi semua orang yang merasa kehilangan seorang Uchy, gw cuma bisa bilang, "percayalah, saya sebaliknya. Saya tidak pernah merasa kehilangan kalian, karena kalian ada di hati saya selamanya."

Friday, May 25, 2007

Cerbung: Air Mata Sahabat

"Ci, Sini dong. Mau curhat niy..."

Weleh-weleh... situ yang mau curhat, kok gw yang disuruh dateng. Tapi mengingat daripada dosa tali silaturahim putus karena hal sepele, jadi gw datengin temen gw itu. Pasang muka ramah, muka kasihan, tiba-tiba gw berkata, “ada apa honey? Pengen cerita? Tentang siapa? Si Ikhwan itu lagi? Tau gak, sebaiknya kita gak usah ngomongin dia lagi yah. Gak baek. Nyiksa diri sendiri. Ngabisin waktu. Mending kita makan es krim di kampung baru. Yuk! Murah kok. Harganya cuma 1500. Rasa kayak es krim restoran. Yuk!” Gw gandeng tangan dia. Temen gw bengong ngeliat reaksi gw. Hehe, syukurin! Biar aer mata lo masuk lagi, pikir gw. Dia ngikut aja kemana mau gw. Lalu dengan tampang begonya, dia nanya, “kok tanggepan lo gitu banget siy, ci..” Gw liat muka dia. Yah, yaaaaaah! Kok malah makin parah nangisnya. Sambil ngebuang napas panjang, gw berenti. Kami akhirnya duduk di pinggiran jalan. Gak peduli orang-orang pada heran ngeliatin dia nangis.

-break dulu- Fren, tau gak? Temen gw emang hobi nangis. Bentar-bentar nangis. Bahagia nangis. Sedih juga nangis. Pokoknya wajar deh kalo dia sekarang nangis. Kemaren aja, sepele siy, gara-gara gw salah nyebut nama ikhwan yang dia kagumin, eh, dia nangis. Bilangin gw tega lah, bilangin gw ternyata gak perhatian lah. Pokoknya ribet dah! –end of break-

Gw specchless fren. Gak tau mesti ngomong gimana. Emang siy, manusia dianugerahi perasaan suka ama lawan jenis. Tapi gak segininya, kali! “Ci.. hiks! Dia tega banget ama gw. Hiks! Dia gak bales sms gw. Dia bilang kalo gw niy cewek yang sebaiknya bebenah diri dulu. Mantepin dulu agama gw. Hiks! Dia jahat ci..” Akhirnya dia bercerita. Fiuh! Sambil narik dia ke tempat yang lebih aman, karena gak berapa lama, makin banyak orang yang ngerubungin kami. Dah kayak artis deh! Setelah dapet tempat pas. Di bawah pohon rindang, daun-daun berguguran. Kicau burung ber... ah! Apaan seh. Dramatisir banget. Wong cuma tempat di bawah pohon pete kok. Mana panas terik lagi.

“Say, tuh elo tau kalo tuh Ikhwan jahat. Udah, makanya lupain aja. Ngapain siy? Ya, gw bukannya gak mau dengerin lo ngomong (padahal iya!). Tapi gw cuma kasian liat lo. Yang dikit-dikit nangis, dia begini lah. Dia begitu lah. Kan sayang pahala lo lari ke dia semua. Pahala gw juga ngikut. Jodoh tuh di tangan Allah. Mendingan juga lo dengerin tuh Ikhwan. Kayaknya bener deh. Jaga dong imej lo sebagai cewek.” Panjang lebar gw ngoceh. Temen gw akhirnya diem.
“Selama ini gw curhat ama lo, ci. Kan lo tau kenapa gw ngelakuin hal ini.”

“Iya, tapi bukan berarti lo ngiba-ngiba kayak gitu dong! Seharusnya kan cowok yang mulai.” Dalem hati gw ngumpat tuh cowok. Dasar munafik lo! Suatu saat gw bakalan bongkar topeng lo.

-break dulu- Fren, pasti lo pada bingung ama cerita gw. Beneran gak siy ada kejadian kayak gini? Trus, kok bisa cewek itu ngiba-ngiba ama seorang ikhwan? Topeng apaan siy? Yang jelas fren, gw pengen elo ngambil hikmahnya aja. –end of break-

Temen gw berusaha buat nahan tangisnya. Sesekali dia narik nafas panjang, walaupun masih sesegukan. Gw inget gw bawa tissue super wangi gw. Gw kasih ke dia. “Makasih, Ci. Tissuenya wangi. Elo emang sohib gw, deh.” Gw ikut senyum ngeliat senyum dia. Jarang-jarang gw liat senyum dia semanis ini. Apa gara-gara tissue gw kali ya? Hihi. Yang jelas, walaupun gw gak tau endingnya kayak mana. Gw ngerasa tenang sekarang.

to be continued...

Tuesday, May 01, 2007

Pucing...

Ada teman yang mengingatkan gw akan pentingnya tanggungjawab, thanks fren...

Pusing juga yah, ketika kita dobel tanggungjawab! Untung aja tempo hari gw gak 'ngambil resiko' dengan konsekuensi bakal punya tanggungjawab lebih, kepada Tuhan dan seseorang itu. Hgh! Karena buktinya, baru aja dikasih kepercayaan ama keluarga untuk 'ngantor', tapi beberapa kali aja gw langgar. Kemaren aja gw pulang malem lagi. Emang siy dari Metro, ada urusan dunia percetakan dan desain, tapi gw jadi batal 'ngantor' lagi.

Tapi gw percaya, gw masih bisa ngebuktiin ama keluarga, kalo gw bisa kuliah, berorganisasi, dakwah, n sekaligus 'ngantor'! :).

Waktu pun lewat tanpa permisi. Tau-tau kita musti dihadapkan pada tanggungjawab yang gak pernah kita duga sebelumnya. GOD, You have to help me for this. Serius deh, kayaknya enakan jadi anak kecil. Kalo kita kerja gak beres, paling dimarahin ama orangtua.

(it's all about the 'sumthing you cannot understand 'till the end of time')

-Sigh, sampe kapan gw bisa menyelesaikan ini...-
-is there anyone can help me out?-



Tuesday, April 24, 2007

Lelah

(Sekadar mengatasi kerinduan orang2)

Lagi iseng maen internet di rumah. Nyambi kerjaan layout buku tahunan yang gak kunjung kelar. Sambil mengingat-ingat badan semalam meriang, ditemani sms gak penting dari seseorang yang berharap gak dikenal. Hgh! Gw L-E-L-A-H fren. Hampir saban hari diri gw depresi sejak peristiwa (tuuuuut! sensor dah!). Menyebalkan. Kalo inget tu peristiwa, ingin rasanya membanting semua benda tanpa orang tau bahwa kita pernah ada.

Ini adalah bukti, bahwa kamuflase lebih dipercaya dibandingkan realita. Dan manusia seenaknya saja merasa bisa mengatur dan mengubah hidup seseorang, 'lo bisa jadi apa yang gw mau'. Seseorang berpakaian gembel dan urak urakan dianggap seseorang yang berpendidikan rendah dan berperilaku kurang ajar. Sementara orang berpakaian necis berdasi mulutnya lebih dipercaya ketimbang orang bersandal jepit kotor. Dan orang bercelana ngatung lebih dianggap alim dibanding orang berjins robek. *sucks.

Intinya fren, gw percaya, manusia bisa mengubah sesuatu dengan semudah membalikkan telapak tangan itu karena keegoisannya.

**
Sedari tadi koneksi internet lumayan cepet. Tapi sebaliknya, koneksi otak gw begitu lambat. Sampai ketika dateng sms dari 'Bulan Merah' yang isinya, "Sobat, ada apakah kiranya? Maukah dirimu mengadu?"

Sahabat memang tau ketika kita sedang ada apa-apa.

Monday, March 26, 2007

Si Mata Celepuk

“Eh, Celepuk! Apa kabarnya? Sombong aja nih...”

Duwh, kayaknya dah lama bener denger istilah itu. CELEPUK. Alias, burung hantu. Kalo siang tidur, kalo malem kelayapan. Enak aja nih orang, pikir gw. Maen seenak udelnya manggil gw Celepuk. Emang gw kayak gitu tah?


Usut punya usut, ternyata emang iya! Gw dulu kayak gitu. Namanya juga temen lama, yang dah gak pernah lagi bertegur sapa. Jadi, pas ketemu, ya, negornya memori lama, lah. *Fren, elo gak ap-tu-det banget sih!* Celepuk tuh, dah ilang dari ingetan gw. Dan gw pengen ngapusnya sama sekali. Soalnya, ya, gak pantes lah, seorang cewek, feminin, imut bin ajaib ini gitu loh, malem-malem kelayapan. Lagian, gw gak ada sayap loh.. (ssst, rahasia! Kebanyakan orang taunya kalo gw nih cewek bersayap kuning!)


Tapi pas gw ngaca, ternyata mata gw emang berkubil gede! Persis kayak orang belum tidur seminggu. Wah, gw kucek-kucek tuh mata. Kok, kagak ngilang-ngilang yak? Ugh! Pantesan aja tuh temen gw manggil gw celepuk! Bukannya karena gw sering pulang malem, tapi karena mata gw yang kubilnya gede gak ketulungan!
Hehe, gw jadi ketawa sendiri. Mau gw kompres seharian, sembebnya mata gw gak kan ilang! Gak bakalan kempes. Kalo mata gw karet iya juga, tinggal gw tusuk pake jarum pentul, pesssss. Kempes deh. Lai, lai... bagi pompanya dong! Gw pengen mompa mata gw. Biar jadi guedeeeee banget! Biarin orang tau kalo mata gw sembeb. Biarin Mike Tyson tau kalo dia ada lawannya, yang lagi ada di ujung Sumatra Indonesia. Biar celepuk tau kalo dia ada saingan! (Emang dia aja yang matanya gede).

“Kenapa sih lo?” Kemaren ada yang tanya gitu sama gw. Busyet dah! Setelah gw nengok, kawan gw yang gak penting itu negor gw. Tumben lo, dalem ati gw. Yah, mungkin karena tau, dia tanya lagi, “Ci! Kenapa sih loooooo?” Yang akhirnya cuma gw tanggepin dengan nyengir dingin, au ah!

Satu per satu, orang-orang pada pergi. Setelah aksi cuek bebek gw, yang mungkin mereka pada gak nahaaaan... Hihihi, asyik juga yah nyuekin orang. Dah ah, bodo, pikir gw. Gw lagi asyik ama kecuekan gw nih fren.*

*Akhir dari sebuah cerita fiksi.

Egoiskah?

Banyak orang menilai, kalo gw tuh egois. Pengennya menang terus. Pernah gw bertanya, “bisa gak kalian tunjukkin ke gw, di mana letak keegoisan gw?” Dan ini sederet jawaban mereka.

1) Setiap kali berpendapat, pendapat gw selalu ‘mengarahkan’ ke arah yang gw mau. Tanpa peduli jawaban gw bener atau salah menurut mereka. 2) Setiap kali ngomong, gw selalu pengen didengerin. Tapi giliran orang lain yang ngomong, gw sibuk baca buku. 3) Setiap kali janji, gw bisa seenaknya aja ngelanggar. Tapi setiap orang yang ngebatalin janji dengan gw, gw bisa marah sampe tiga hari! 4) Setiap kali gw bilang ama orang, “tahan emosi!” Setiap kali gw ada masalah juga gw nangis dan marah.

Dan masih banyak keegoisan yang mereka sebutkan, hingga kepala gw pusing mendengarkan suara mereka. Bagaikan slow motion di film-film. Kepala gw muter-muter entah kemana. Yang tampak cuma gerakan bibir mereka yang tidak terdengar suaranya, dengan raut wajah yang seolah menghakimi.

Tapi bagi gw, jawaban mereka adalah sesuatu yang masih bisa gw bela. Gw masih punya alasan untuk menolak semuanya. Satu hal yang gak bisa gw bantah, yaitu K-E-E-G-O-I-S-A-N gw kepada Allah. Allah SWT dah ngasih gw umur, kesehatan, rezeki, bahkan sahabat untuk menemani dan berbagi kasih. Tapi, gw EGOIS dengan tidak mempedulikannya sama sekali. Beberapa hari yang lalu, gw SAKIT. Tapi sepanjang hari gw ngeluh karena sering gak tahan menahan sakit. Bulan lalu gw mendapat REZEKI yang cukup lumayan dari hasil kerja gw. Tapi belum sedikitpun gw sedekahin ke kaum yang membutuhkan. Bertahun-tahun lalu, berbulan-bulan lalu, berhari-hari, bahkan sejam yang lalu, Allah dah ngasih gw SAHABAT buat gw berbagi cerita, kasih, serta duka yang gw alami. Tapi semua gw sia-siakan. Gw diam seribu bahasa di depan mereka. Fren, gw gak bisa ngomong. Yang bisa gw kasih ke kalian hanyalah menunjukkan betapa EGOISnya gw kepada semua hal! Gw gak tau sampai kapan hal ini bakal terjadi sama gw.

Ada pepatah mengatakan, “kita baru merasa memiliki sesuatu, ketika kita kehilangan sesuatu itu.” Dan gw harap, gw gak sampai sejauh itu.

-ujung 69-
20 Maret 2007

Pilihan

I’ve become tired of wasting my time.
Thinking ‘bout choices that i’ve made.
‘Cause i can’t move forward while looking behind.
The only thing I can do now is change the way that i used to be.
‘Cause now it seems crystal clear to me.

(More Than Memory - Hoobastank)


Salah satu lirik lagu favorit gw. Iramanya juga enak didenger dikala hati lagi bad mood. Friend, the lyrics are so deep! Pilihan ada di tangan gw. Selebihnya, terserah Tuhan mau ngizinin apa gak. Pilihan-pilihan itu betebaran di depan mata gw. Melayang-layang mengitari kepala gw. Gw gak bisa stagnan gini aja. Gw harus gerak, g-e-r-a-k. Walau dengan susah payah. You know what, kadang gw mati rasa. Ketika ada sesuatu yang menghantam kepala gw dengan begitu kerasnya, gw masih bisa santai duduk dengan tenangnya. Sambil mulut mengunyah permen karet, sebagai tanda gw gak peduli dengan sekitar. Tapi, cuma mulut gw aja yang bisa gerak. Tapi tangan, kaki, badan gw diam sama sekali. Sesuatu itu menghantam lagi. Yang kedua kali. Lebih keras dari yang pertama. Dan badan gw dengan santainya masih bergeming. Bahkan mulut gw gak cuma ngunyah aja, tapi juga senyum ketus, ‘mau apa sih sesuatu itu. Pake nyenggol-nyenggol badan gw segala’.

Ugh! Manusia kepala batu! Apa iya gw kayak gitu? Gw capek ngabisin waktu, buang-buang waktu gw dengan sia-sia dan hanya sekedar bertanya, ‘apa sih?’. Pilihan-pilihan itu masih berkitaran. Melayang-layang mengelilingi kepala gw. Seketika, ada sebuah kekuatan yang mendorong gw untuk memilih dan mengambil pilihan itu. Plik! Gotcha! Gw dah ada pilihan. Dan saat ini pilihan itu dah ada di tangan gw. Gw pandangin tuh pilihan, gw bolak balik. Bener gak nih yang gw pilih? Apa gw taro lagi di kitaran kepala gw, dan memilih yang laennya?

Sampai akhirnya, gw memutuskan untuk meletakkan kembali pilihan itu. Karena gw merasa gw harus adil pada semua pilihan yang tersedia. Gw kembali duduk dengan tenang. Kali ini tidak dengan diam. Tapi justru membuat semua pilihan yang berkeliling di kepala gw tadi menjadi terseleksi dengan sendirinya.

Gosh. Suatu saat, gw HARUS mengambilnya. Sampai gw yakin bahwa gw bener-bener siap. Dan Hanya Kau-lah yang bisa menunjukkannya, Tuhan.

-Ujung 69 / 19 Maret 2007 / 22:19 WIB

Cermin di Dinding

Kemaren gw beli cermin baru. Soalnya cermin yang lama dah pecah, sampe sulit banget untuk diperbaiki. Setiap kali gw berkaca, retakan satu nongol. Esoknya, retakannya tambah parah. Hingga terakhir gw berkaca, cermin tuh hancur lebur, praaaaang! Pecah gak ketulungan.

Selama seminggu, sebulan, bahkan setahun tuh cermin gw biarin gitu aja. Gw males buat berusaha ngebenerinnya. Sampe suatu ketika, salah satu retakannya gw ambil, dan gw liat ada noda darah di ujungnya. Yup! Itu darah tangan gw sendiri. Bekas yang lalu belum ilang juga. Gw liat kondisi tangan gw, bahkan dari dulu sampe sekarang tangan gw gak sakit dan gak ngalamin apa-apa. Kenapa nodanya bisa membekas? Sama seperti dua hari yang lalu, ketika gw mendapati bantal gw basah air mata, tapi gw gak ngerasa setetes airpun keluar dari mata gw.

Itu yang gw alamin selama ini fren. Gw dah buat darah, noda, dan sakit di hati dan tubuh orang lain. Tapi di diri gw sendiri, gak ngerasa apa-apa. Gw gak sadar ngelakuinnya. Seperti gak sadarnya gw memecahkan cermin dan membasahi bantal tadi.


Fren, apa ini tandanya gw orang yang gak tau diri? Apa cuma gw aja yang ngerasa kayak gini? Gw bener-bener gak tau fren. Gw jadi teringat kejadian tahun lalu. Ketika seseorang ngomong ama gw, “saya sakit hati, ci!” Tapi gw bengong. Gw gak tau kenapa gw bisa buat dia sakit hati. Dia gak ngejelasinnya. Dia pergi dengan amarah yang tertinggal. Tapi tetep aja, gw gak bisa ngerasa itu.


==

Cermin baru itu menunggu untuk gw tengok. Tapi gw terlalu takut untuk memecahkannya lagi. Cermin yang lama emang masih gw simpen, juga menunggu untuk gw perbaiki. Entah kapan. Gw cuma senyum aja ama tuh cermin. Gw liat, cermin itu masih aman di bungkusan plastik putih. Bau pabrikan masih kecium, pertanda barang baru dan murni. Gw yakin di dalemnya, cermin itu lebih baik daripada cermin yang gw pecahin sebelumnya.

Hingga suatu saat, gw bakal siap buat memajangnya. Dan dengan bangga bercermin kepadanya, sambil bertanya, “cermin cermin di dinding, siapakah gadis yang paling cantik di dunia?”


-19 Maret 2007. Ujung Telukbetung