◄ Vice Versa ►

Sunday, July 01, 2007

Subhanallah! Wanita...

Tanpa bermaksud membanding-bandingkan dengan kaum laki-laki (karna saya yakin Allah menciptakan keduanya dengan proporsi yang sempurna), lihat betapa beruntungnya menjadi sosok wanita.

Teruntuk kepada semua wanita yang merasa rendah diri dan tidak mensyukuri dirinya adalah wanita, baca artikel berikut.

Ada yang bilang, menjadi wanita Islam sungguh SULIT, karena KEBEBASAN-nya TERKEKANG. Menurut mereka:
1. Wanita auratnya lebih susah dijaga berbanding lelaki.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya kurang berbanding lelaki.
4. Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6. Wanita wajib taat kpd suaminya tetapi suami tak perlu taat pd isterinya.
7. talak terletak di tgn suami dan bukan isteri.
8. Wanita kurang dlm beribadat karena masalah haid dan nifas yg tak ada pada lelaki.

Makanya mereka tidak lelah-lelahnya berpromosi untuk "MEMERDEKAKAN WANITA ISLAM", "BERIKAN KEBEBASAN PEREMPUAN", "KEBEBASAN adalah bagian dari HAK ASASI PEREMPUAN".

Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya)? Benda yg mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yg teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan?

Itulah bandingannya dgn seorg wanita. Wanita perlu taat kpd suami tetapi lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya. Bukankah ibu adalah seorang wanita?

Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, manakala lelaki menerima pusaka perlu menggunakan hartanya utk isteri dan anak-anak.

Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di mukabumi ini, dan matinya jika karena melahirkan adalah syahid.

Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita ini: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.

Manakala seorang wanita pula, tanggungjawab terhadapnya ditanggung oleh 4 org lelaki ini: Suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.

Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui mana mana pintu Syurga yg disukainya cukup dgn 4 syarat saja: Sembahyang 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat suaminya, dan menjaga kehormatannya.

Seorg lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah tetapi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH akan turut menerima pahala seperti pahala org pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

Subhanallah, demikian sayangnya ALLAH pada wanita, kan?

Dunia itu Mimpi

Sesungguhnya dunia itu mimpi. Di akhiratlah terbangunnya.
Kematian memperantarainya. Kita adalah kumpulan bunga-bunga mimpi.

Barangsiapa menghisab dirinya akan untung dan barangsiapa yang lalai akan merugi.
Barangsiapa memperhatikan kesudahan hidup ini maka ia akan selamat.
Dan barangsiapa mengikuti hawa nafsunya maka ia akan tersesat.

Barangsiapa berlembut hati akan mendapat untung.
Barangsiapa mengambil pelajaran maka ia akan bisa melihat.
Barangsiapa melihat maka akan paham.
Barangsiapa mengetahui maka ia akan mengamalkan.

Maka bila engkau tergelincir segeralah kembali.
Bila engkau menyesal segera lepas penyesalan itu.
Bila engkau tak mengerti maka bertanyalah.
Bila engkau marah, tahanlah.

Ketahuilah, sesungguhnya sebaik-baik amal adalah yang jiwamu berat melakukannya.

(Hasan Al Basri)

Thursday, June 07, 2007

Feels Like Home

Suatu hari saya sengaja tidak membawa motor. Berbekal ongkos tidak seberapa, saya berangkat dengan segala resikonya. Dengan membaca basmalah dan ayat kursi, berharap perjalanan saya ini membawa hikmah. Bagi sebagian orang, mungkin perjalanan ini biasa. Tapi tidak bagi saya. Menyusuri kota dengan berjalan kaki, yang tadinya tubuh dimanjakan dengan kemudahan kendaraan selama beberapa lama, bukanlah sesuatu yang mudah.

Ayo, Ci, you have to be strong. Lawan lemahnya dirimu. Ayo Lawan... Lawan...
Kalimat itu terus-terusan terngiang di kepala. Kalau saya tidak keluar dan berusaha lepas dari semua kemanjaan, yang ada adalah saya akan terus-terusan sakit. Sempat beberapa waktu saya menjadi orang yang begitu tidak berperasaan, tidak peduli akan lingkungan sekitar, serta masa bodo dengan segala keadaan. Banyak sahabat yang sms, tidak saya balas karena kebetulan pulsa pun habis.

Tas selempang yang saya bawa hanya berisikan uang, botol minum, tissue, buku coklat favorit+alat tulis, dan hape+flashdisknya. Sewaktu menunggu bis di perempatan taman, udara masih tenang. Polusi belum banyak. maklum saja, saya pergi pagi-pagi. Tak lama kemudian, bis pun muncul juga. Dan seperti biasa juga, saya memilih duduk di paling depan dekat jendela samping pak supir. Kalau tiba-tiba ramai kan, bisa aman, pikir saya.

Awalnya tujuan saya pergi memang untuk menyusuri kota. Turun di Bambu Kuning, dan inilah awal perjalanan saya.

(Tunggu tulisan selanjutnya)

Monday, May 28, 2007

Sesuatu Itu Disebut Ideologi

Assalamu’alaikum fren! Kali ini saya akan membicarakan sesuatu yang masih dianggap banyak orang sebagai istilah berat. Apa itu? Ya, sesuatu itu disebut IDEOLOGI.

Fren, banyak orang yang mengaku dirinya berideologi ini itu, namun dia tidak paham akan ideologi itu sendiri. Kondisi seperti menurut saya, sama halnya seperti bernama tapi tidak tahu makna namanya. Ada pepatah mengatakan, apalah arti sebuah nama. Kalau saya sih, sebaliknya, nama itu benar2 penting! Karena yang memberi nama adalah orang tua. Bahkan mungkin sampai pikir pusing 77kali dulu baru bisa menemukan nama yang cocok. Yang lebih utama lagi, nama adalah doa dan penggambaran harapan terhadap hidup si anak.

Seperti Ibnu Sina yang mengatakan, “Tanpa Definisi, kita tidak akan pernah bisa sampai pada konsep.” Menurut beliau hal ini sama pentingnya dengan silogisme (baca: logika berfikir yang benar) bagi setiap proposisi (dalil atau pernyataan) yang kita buat. Begitu pula ketika seseorang mengaku dirinya ber-ideologi, maka dia harus tahu apa itu ideologi, dan paham akan ideologi yang dianutnya.

Saya pernah ngobrol sama teman saya. Mereka bilang, “ngapain sih Ci, mikir kok berat-berat banget! Yang penting tuh, sekarang kita beresin dulu sholat kita. Yang penting kita puasa, jujur, amanah, ‘n bisa dipercaya. Dikasih tanggung jawab, jalan. Dikasih kepercayaan, dipegang. Itu dulu... Gak perlu deh sampe mikir kita musti berideologikan ini itu. Wong kita ngurusin diri sendiri aja repot, boro2 mau ngurusin yang laen. Mana kepikiran yang begituan. Dah deh, sekarang yang penting niatnya. Titik.”

Ungkapan panjang lebar teman saya itu membuat saya diam. Bukannya tidak bisa menanggapi. Tapi justru karena kepala langsung jadi pening, ngebayangin betapa banyaknya manusia yang ada di bumi ini dengan cara berpikir seperti itu.

Padahal, Allah menciptakan manusia juga sebagai khalifah untuk menyampaikan ayat-ayatnya. Untuk saling mengingatkan di saat apapun juga. Ada teman ditimpa musibah, kita ingatkan untuk bersabar. Ada teman dapat rezeki, kita ingatkan untuk bersyukur. Begitu pula sebaliknya. Kita yang khilaf, maka kitapun mengharapkan ada teman yang dapat mengingatkan. Betapa Maha Adilnya Allah, kan? So, bukan sekedar egois memikirkan diri kita sendiri. Ya, sampaikanlah walau satu ayat. Saya betul-betul tidak habis pikir pada orang2 yang bilang, “duh, gw gak pantes buat ngajarin ini itu. Boro2 deh mau jadi tutor. Ilmu gw aja masih minim. Kelakuan gw aja masih gini.” So, what will you do, friend? Tidak bersyukurkah manusia atas ilmu yang telah diberikan-Nya? Mau sampai kapanpun, ilmu itu tidak akan pernah habis. Bahkan di saat kita menghadapi maut sekalipun, tua sekalipun, atau berumur 100 tahun sekalipun. Kalau berpikir seperti itu terus, kapan dakwahnya?

Cara berpikir linear seperti itulah yang membuat Islam melemah! Yang patut diingat, Islam bukanlah sekedar mengurusi ritus ibadah saja. Bukan sekadar mengurusi sholat, puasa, dzikir. Islam adalah Ideologi. Mabda. Rahmatan lil ‘alamin. Mengatur segala sesuatu, dari yang besar, hingga hal kecil sekalipun. Tak ada yang luput dari aturan-Nya. Itulah mengapa setiap manusia penting untuk berideologi. Karena ideologi/mabda adalah visi yang komprehensif, sebagai cara memandang sesuatu, kumpulan ide2 atau pemikiran, merupakan akidah yang sampai melalui proses berpikir, yang melahirkan aturan2 dalam kehidupan. Mencakup keseluruhan, manusia, alam semesta, ataupun kehidupan. Baik sebelum dan sesudah manusia dilahirkan. (lihat definisi lain tentang ideologi).

Kadang saya miris juga, masih banyak orang yang menganggap istilah ideologi terlalu berat. Hm, kalau begitu oke, janganlah kita pakai istilah ideologi. Coba pakai istilah aturan hidup, pandangan hidup, hukum dari segala perbuatan kita. Sama tidak? Kapan ya, kita bisa membiasakan diri untuk menyebut, I-DE-O-LO-GI? Dan dengan wajah ceria, karena kita beruntung bisa berkata, “ideologi saya Islam, lho!”.

Tapi ingat fren, ketika kita sudah berkata “saya berideologikan Islam!” maka ada konsekuensi yang mengikuti kita, yaitu bagaimana upaya kita untuk selalu berhukum hanya dengan hukum-Nya. Dan Insya Allah jika niat kita tulus, maka Allah pun akan memudahkan jalan kita untuk melaluinya, ya kan? (n_n). Betapa hukum Allah itu sempurna ya. Masih ingat, kan, bahwa ketika manusia sudah berniat baik, maka Allah memerintahkan malaikat untuk mencatat amal baik, dan ketika melaksanakannya, maka catatan amal baik pun bertambah. Tapi ketika manusia berniat jahat, Allah memerintahkan malaikat untuk menangguhkan catatannya dan baru mencatatnya ketika manusia benar-benar melakukannya. Dan ketika manusia melakukan kesalahan pun, Allah masih membuka pintu taubat selama manusia tidak berada dalam kondisi sekarat. Subhanallah, keren, kan! (Eh, tapi siapa yang tau yah kapan kita sekaratnya?).

Firman Allah QS. Al Baqarah 2:208

“Hai orang2 yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah2 setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Tidak berat, kan berideologikan Islam? Insya Allah, Allah pasti nunjukkin jalan-Nya kepada hamba-Nya yang berusaha. ~_n. Saling doain ya Fren! Karena saya juga masih belajar. Wassalam.

Salahkah Berubah?

Tu pertanyaan tiba2 aja muncul dan mencuat di kepala tatkala seorang teman berkata, "we 've lost you".

Fren, bagi gw saat ini, perubahan adalah sesuatu yang penting. Yang kudu dilakuin. Kadang sedih juga, ketika kita mengharapkan sahabat kita agar berubah lebih baik, tapi dia malah ngomong, "apa urusan lo?".

Gw kangen dengan sahabat gw. Yang dulu menjadi teman bercerita, ketika sedih gw ngadu sama dia. Ketika seneng gw selalu ajak dia. Di segala kondisi pun gw selalu mengharapkan dan berdoa agar dia terus berubah menjadi lebih baik. Dan suatu ketika, gw harus kehilangan itu. Gw sadar kalau perbuatan gw salah. Dan gw pun nangis setelahnya.

Pernyataan di atas itulah yang buat gw nangis. Tapi dari situ gw jadi mikir, merenung, menyendiri sejenak. Dalem ati gw, bener banget temen gw itu. Karena ketika berubah dulu, gw sempet berpikir bahwa bakal ada kejadian seperti ini. Dan ternyata terbukti.

Seminggu pasca gw hijrah, temen gw sms, "dan mereka2 yang mencintai Allah pula-lah yang akan dekat dengan kita." Dan kata2 itulah yang membuat gw kuat.

Walaupun demikian, bagi semua orang yang merasa kehilangan seorang Uchy, gw cuma bisa bilang, "percayalah, saya sebaliknya. Saya tidak pernah merasa kehilangan kalian, karena kalian ada di hati saya selamanya."

Friday, May 25, 2007

Cerbung: Air Mata Sahabat

"Ci, Sini dong. Mau curhat niy..."

Weleh-weleh... situ yang mau curhat, kok gw yang disuruh dateng. Tapi mengingat daripada dosa tali silaturahim putus karena hal sepele, jadi gw datengin temen gw itu. Pasang muka ramah, muka kasihan, tiba-tiba gw berkata, “ada apa honey? Pengen cerita? Tentang siapa? Si Ikhwan itu lagi? Tau gak, sebaiknya kita gak usah ngomongin dia lagi yah. Gak baek. Nyiksa diri sendiri. Ngabisin waktu. Mending kita makan es krim di kampung baru. Yuk! Murah kok. Harganya cuma 1500. Rasa kayak es krim restoran. Yuk!” Gw gandeng tangan dia. Temen gw bengong ngeliat reaksi gw. Hehe, syukurin! Biar aer mata lo masuk lagi, pikir gw. Dia ngikut aja kemana mau gw. Lalu dengan tampang begonya, dia nanya, “kok tanggepan lo gitu banget siy, ci..” Gw liat muka dia. Yah, yaaaaaah! Kok malah makin parah nangisnya. Sambil ngebuang napas panjang, gw berenti. Kami akhirnya duduk di pinggiran jalan. Gak peduli orang-orang pada heran ngeliatin dia nangis.

-break dulu- Fren, tau gak? Temen gw emang hobi nangis. Bentar-bentar nangis. Bahagia nangis. Sedih juga nangis. Pokoknya wajar deh kalo dia sekarang nangis. Kemaren aja, sepele siy, gara-gara gw salah nyebut nama ikhwan yang dia kagumin, eh, dia nangis. Bilangin gw tega lah, bilangin gw ternyata gak perhatian lah. Pokoknya ribet dah! –end of break-

Gw specchless fren. Gak tau mesti ngomong gimana. Emang siy, manusia dianugerahi perasaan suka ama lawan jenis. Tapi gak segininya, kali! “Ci.. hiks! Dia tega banget ama gw. Hiks! Dia gak bales sms gw. Dia bilang kalo gw niy cewek yang sebaiknya bebenah diri dulu. Mantepin dulu agama gw. Hiks! Dia jahat ci..” Akhirnya dia bercerita. Fiuh! Sambil narik dia ke tempat yang lebih aman, karena gak berapa lama, makin banyak orang yang ngerubungin kami. Dah kayak artis deh! Setelah dapet tempat pas. Di bawah pohon rindang, daun-daun berguguran. Kicau burung ber... ah! Apaan seh. Dramatisir banget. Wong cuma tempat di bawah pohon pete kok. Mana panas terik lagi.

“Say, tuh elo tau kalo tuh Ikhwan jahat. Udah, makanya lupain aja. Ngapain siy? Ya, gw bukannya gak mau dengerin lo ngomong (padahal iya!). Tapi gw cuma kasian liat lo. Yang dikit-dikit nangis, dia begini lah. Dia begitu lah. Kan sayang pahala lo lari ke dia semua. Pahala gw juga ngikut. Jodoh tuh di tangan Allah. Mendingan juga lo dengerin tuh Ikhwan. Kayaknya bener deh. Jaga dong imej lo sebagai cewek.” Panjang lebar gw ngoceh. Temen gw akhirnya diem.
“Selama ini gw curhat ama lo, ci. Kan lo tau kenapa gw ngelakuin hal ini.”

“Iya, tapi bukan berarti lo ngiba-ngiba kayak gitu dong! Seharusnya kan cowok yang mulai.” Dalem hati gw ngumpat tuh cowok. Dasar munafik lo! Suatu saat gw bakalan bongkar topeng lo.

-break dulu- Fren, pasti lo pada bingung ama cerita gw. Beneran gak siy ada kejadian kayak gini? Trus, kok bisa cewek itu ngiba-ngiba ama seorang ikhwan? Topeng apaan siy? Yang jelas fren, gw pengen elo ngambil hikmahnya aja. –end of break-

Temen gw berusaha buat nahan tangisnya. Sesekali dia narik nafas panjang, walaupun masih sesegukan. Gw inget gw bawa tissue super wangi gw. Gw kasih ke dia. “Makasih, Ci. Tissuenya wangi. Elo emang sohib gw, deh.” Gw ikut senyum ngeliat senyum dia. Jarang-jarang gw liat senyum dia semanis ini. Apa gara-gara tissue gw kali ya? Hihi. Yang jelas, walaupun gw gak tau endingnya kayak mana. Gw ngerasa tenang sekarang.

to be continued...

Friday, May 04, 2007

Happy Milad to My MOM!


Ayuk Libert (left), My Mom, and me (Middle).

24 April 1963 - 2007 (44 tahun).

UHIBBUKA FILLAH! Mom... n_n

Doaku sepanjang tarikan nafas.
Untuk kasih sayangmu yang takkan terbalas.
Demi cintaku pada-Nya, takkan kubiarkan airmata lukamu membekas.
Tiada bakti yang berarti, tanpa ridho Ilahi.
Betapa banyak dosaku, betapa sedikit rasa santunku.

Ampunku pada Allah. Semoga Ia memberikan kesehatan, baik jiwa dan raga kepada mama. Senantiasa memberikan ketegaran dalam menghadapi cobaan dan tekanan. Diberikan rizki yang halal. Diberikan kemudahan dalam menjalani dan menghadapi anak-anak mama ini :).

dan yang terutama... Semoga mama terus berusaha menjadi Istri yang Sholehah. Amin!

Mom, you're the greatest leader at our home, sweet jannah! n_n

Tuesday, May 01, 2007

Antitesa Fitrah

(Kutipan dari tulisan di diari kenangan dan unek-unek pikiran)

Di ujung petang di sebuah ruangan luas namun sempit. Ramai namun sepi.

Keadaan ekonomi makin semrawut. Pengangguran makin banyak karena lulusan universitas tak bisa mendapat pekerjaan secara langsung, dan bahkan pihak kampuspun tidak bisa menjamin lulusannya mampu mempertanggungjawabkan nilai-nilianya.

Saat menjadi mahasiswa, yang berkitaran di kepala hanyalah kata ‘idealisme’ yang musti ‘diperjuangkan dan diraih’. Karna itu mau tak mau banyak orang yang berusaha untuk mencari tau dan sok tau akan makna idealis.

Sama bodohnya dengan mereka! Orang-orang yang mengaku berideologis sosialis, tapi planga-plongo ketika ditanya apa itu ideologi. Ada lagi yang mengaku antikapitalis, tapi pakai baju merek prada, sepatu nike, dan tiap bulan bolak balik luar negeri dengan alasan menghemat cari barang murah gak buat sakit dompet. Ada juga yang ngakunya cinta alam, tapi teriak-teriak serampangan, buang puntung rokok sembarangan, mabok-mabokan, bahkan buang karet bekas sampah lengket gak kenal juntrungan! Yang lebih bodoh lagi, ngaku Islam tapi sholat aja enggan, perilaku di luar al-Quran, pemikiran sekuler dengan alasan toleransi beragama. Sucks!

Kemuakanku tidak berhenti sampai di situ. Kegeraman tidak bisa reda, sampai-sampai gigi geraham atas menyatu dengan yang bawah. Tangan mengepal, menahan emosi atas orang-orang berpikiran setan. Mereka tertawa, tanpa peduli ada yang sakit hati di ujung sana. Mereka menggebrak meja –sambil terus tertawa- mengejek orang-orang yang berusaha mencari jati diri dan mencapai puncak pengetahuan tentang Tuhan. Mereka terus-terus-terus tertawa hingga air mata keluar dari mata merah berkepala tanduk makhluk berapi. Mereka gitar-gitaran, terus, sambil mengepul-ngepulkan asap rokok yang sama sekali tiada harum baunya dan menyesakkan dada dan kepala, seperti tidak mendengar suara adzan berkumandang, hingga adzan berikutnya. Ketika diperingatkan, mereka malah bilang, "cari iman jangan di sini!"

Dan mereka terus beringasan! Merasa bangga bersahabat erat dengan dosa. Bahkan kebo di sawah pun lebih pintar, jika lelah mereka beristirahat, duduk, diam, tenang, dan berdzikir. Tapi mereka tidak! Terus saja mencaci, menghardik, mengatai, seakan tidak sadar bahwa tubuh dan mulut-mulut itu suatu saat akan mati terkunci, untuk kemudian hidup kembali.

Suatu saat, keadaan akan berbalik. Dimana mereka akan diam seribu bahasa, dan sadar bahwa mereka bukanlah apa-apa. Kemudian menangis menyesali dosa. Bertobat. Memohon ampun atas segala dosa dan khilaf. Menuntut ampun dan maaf. []

-pertengahan April-

Pucing...

Ada teman yang mengingatkan gw akan pentingnya tanggungjawab, thanks fren...

Pusing juga yah, ketika kita dobel tanggungjawab! Untung aja tempo hari gw gak 'ngambil resiko' dengan konsekuensi bakal punya tanggungjawab lebih, kepada Tuhan dan seseorang itu. Hgh! Karena buktinya, baru aja dikasih kepercayaan ama keluarga untuk 'ngantor', tapi beberapa kali aja gw langgar. Kemaren aja gw pulang malem lagi. Emang siy dari Metro, ada urusan dunia percetakan dan desain, tapi gw jadi batal 'ngantor' lagi.

Tapi gw percaya, gw masih bisa ngebuktiin ama keluarga, kalo gw bisa kuliah, berorganisasi, dakwah, n sekaligus 'ngantor'! :).

Waktu pun lewat tanpa permisi. Tau-tau kita musti dihadapkan pada tanggungjawab yang gak pernah kita duga sebelumnya. GOD, You have to help me for this. Serius deh, kayaknya enakan jadi anak kecil. Kalo kita kerja gak beres, paling dimarahin ama orangtua.

(it's all about the 'sumthing you cannot understand 'till the end of time')

-Sigh, sampe kapan gw bisa menyelesaikan ini...-
-is there anyone can help me out?-