Monday, September 15, 2008

Mulai Pindah Ke Kostan

Temans, ini hari kedua kami mengunjal2 barang. Duh, tak sabar rasanya segera menempati kamar berukuran 4x4meter itu. Namun, masih ada beberapa hal yang perlu kami persiapkan sebelum semua barang kami bawa. Saya masih perlu pasang gordennya dulu, pasang lampu, lantainya di pel sekali lagi, setelah itu, baru bisa pasang sprei, karpet, bawa2 barang dapur, dll.

Pas di sana, pas hujan dan sore menjelang buka, saya ketemu dengan teman saya yang kost di situ juga, si Bunda panggilannya. Mungkin dia merasa saya sibuk atau apa, sehingga tak menengok ke kamar sekalipun. Dia asyik dengan teman2 lainnya. Awalnya Bunda melihat pintu kamar kami terbuka. Dengan perasaan curiga, dia memperhatikan ibu saya yang sedang berada di pintu yang melihat hujan dan rerumputan. Bunda akhirnya menarik badannya, dia cuek bercampur penasaran, "adakah saya di sana?" *Hayo? gimana coba saya bisa tahu perasaan curiga dia, sampai gerak gerik dia yang penasaran, sedangkan saya lagi di dalam beres2? Hehe!*

Ah, Bun, kita kan bakal bertetangga... :)

Dan sekarang saya mau ke pasar dulu, beli sapu2 dan besi pemasang gordennya. Ah, iya, sepertinya baru besok juga baru bisa inap di kostan baru. :)

Labels:


Ayo baca terus...

Thursday, September 11, 2008

Manfaat Suami Istri nge-Kost

Bagi sebagian orang, mungkin aneh dan tak biasa mendengar suami istri kok ngekost. Tapi kalau Anda mahasiswa, apalagi aktivis, pasti sering jumpa hal beginian. Banyak suami istri, yang salah satu atau keduanya masih kuliah, memilih nge-kost dulu dengan berbagai pertimbangan. Coba tengok di antaranya:



1. Memudahkan urusan kuliah. Karna itu, memilih kostan-nya yang dekat kampus.
2. Menghemat. Uangnya bisa dipakai buat biaya kuliah dan urus skripsi (yang kabarnya makan biaya banyak itu). *menggunakan kata kabarnya, soalnya ya saya belum selesai skripsinya :D)
3. Hidup sederhana. Rasulullah bilang, hindari pembuatan kamar dan ruangan yang mubazir. Karena itu termasuk perbuatan yang sia-sia.
4. Mbikin lebih mesra. Ya iyalah. Soalnya tiap kemana-mana pasti ketemu. Sejauh mata memandang, di situlah suami/istri kita berada, hehe.
5. Mandiri. Yang namanya menikah, sepatutnya pisah dari orang tua. Mau sesusah apapun keadaan kita, ya harus dihadapi sendiri.
6. Mendewasakan diri. Biasanya, walaupun sudah menikah tapi masih bareng sama orang tua, rasa ‘manja’ pasti tetep ada. Nah, kalau sudah nge-kost, mau ngadu sama siapa selain ke Allah dan suami/istri?
7. Belajar bersosialisasi dan Memperluas Silaturrahim. Namanya juga kostan. Pasti letak kamarnya dempet2an. Mau tak mau, kita harus jalin silaturrahim. Dimana kita belajar bagaimana hidup dengan orang lain. *berhubung saya juga termasuk orang yang Super Duper Kuper, berbalikan dengan suami saya.*
8.… (isi sendiri)

Nah, jadi jangan tunda nikah hanya karena TAK ADA RUMAH. Yakin, deh, Allah pasti kasih rezeki sama suami istri. (Yang implikasinya, karena keyakinan kita itu, Insya Allah kita jadi tambah semangat cari Maisah-nya. So, Insya Allah berdampak kepada pendapatan kita.)

Buktinya, Alhamdulillah suami mampu urus rumah, walau dengan penghasilan kecil-kecilan. Sambil terus mencari, mencari, mencari… Tau apa pekerjaan saya dan suami? Hm, sebut saja PENGUSAHA. Alias senantiasa mengusahakan apa-apa yang bisa diusahakan.

Nb: kalau begitu, mulai tanggal 16 September 2008 nanti, pekerjaan suami saya adalah KONTRAKTOR. Hehe… (Saya Bangga Bersuamikan Dia).

Labels:


Ayo baca terus...

Suami Istri Tinggal nge-Kost

Hari ini saya mau ngepak barang-barang. Karena Insya Allah tanggal 16 September nanti saya dan suami akan segera ‘move out’ dari rumah kami sekarang. (Selama lima bulan menikah ini kami sementara tinggal bersama orang tua saya).

Kami memutuskan untuk kredit rumah, tepatnya di Jati Mulyo, Karang Anyar, Lampung Selatan. Tempatnya lumayan, dekat pasar, pom bensin, dan kantor pos. Kalau dari arah Way Kandis, terus saja ke Karimun Jawa sampai mentok, trus belok kiri dan bakal ada papan petunjuk. Perumahan Permata Asri namanya. Banyak yang bilang tempatnya terlalu jauh. Namun, ingat Way Halim dulu. Banyak yang ogah untuk tinggal ke sana. Coba lihat sekarang… *Ah, sebetulnya hanya ingin meyakinkan diri sendiri :p*.

Karena KPR, tentunya ada proses lagi. Wong rumahnya saja masih dibangun, listrik belum terpasang, dan airnya mungkin baru ngebor. Kata pengurusnya, memakan sekitar tiga bulan lagi baru bisa ditempati. Namun, saya dan suami sepakat, sepertinya bakal lebih dari itu deh. Jadi untuk sementara, sambil nunggu rumah jadi, kami bakal nge-kost dulu. *Asyik kan :)*




Berawal dari Feeling dan Iseng
Alhamdulillah, setelah ke sana kemari, tawaran kontrakan rumah sana sini, saya dan suami nemu kostan yang lumayan sreg di hati. Anak Unila pasti tau gang Kedele. Nah, ada kostan putri di sana. Anak Teknokra juga pasti kenal Linda Meitabel dan Dwi Kuswatuti. Dua-duanya Manajer Keuangan Teknokra beda generasi. Mereka juga kost di sana. Bentuknya seperti komplek. Banyak daun dan rumputnya, asri deh.

Di dalam ‘komplek’ itu, terdapat 12 kamar, 6 di antaranya berukuran besar. Namun, dapur dan kamar mandi di apit oleh dua kamar berbeda. Tapi menurut kami itu tak masalah, bisa diatasi dan dibagi. Ketika iseng-iseng nemui pak Kostannya, dan tanya2 bisa tidaknya keluarga kost di sana, dia langsung antusias.
“Oh, ada. Kamu beruntung, tinggal satu lagi. Kamar yang besar, lagi. Kamu pas kalo cari di sini. Tempat ini memang sering ditempati sama keluarga, suami istri pengantin baru.”
Dia bercerita, terakhir ada dokter genekologi dan istrinya. Kostan ini sudah berumur belasan tahun, dan selama itu banyak suami istri tinggal di sana. Tempatnya memang pas, apalagi masih berdua, yan pasti bisa berhemat untuk nabung rumah sesungguhnya.

Kemudian kami diajak untuk melihat kamarnya. Lumayan, kata suami saya. Berhubung saya sudah biasa ke sana, jadi saya sudah tau lebih dulu keadaannya. Pak Kost tanya2, suami kerja di mana, saya dimana, sekarang masih tinggal dimana, dll. Setelah tau saya masih kuliah di Unila, dia nyeletuk, “wah, yang satu nyari duit, yang satu ngeluarin duit,” Ujarnya sambil tertawa.

Pulang ke rumah, saya sampaikan keinginan ini ke mama saya. *kok sedih banget ya saya. :’(* Kata mama, ya, gapap. Yang penting jaga diri. Rasa sedih segera mengelayut. Dulu, ketika awal menikah, saya yakin bahwa saya bisa mandiri, lepas dari orang tua. Sekarang, kok rasanya bakal sedih banget ya pisah. Padahal tinggalnya pun dekat. Teluk dan Rajabasa. Dekat banget menurut saya. Tapi, ini memang tekad kami berdua. Rasa sedih dan kangen pasti bakal ada. Ini komitmen yang harus dipunya ketika awal dulu.

Mom, Dad, Sis, Bro, We’ll miss you so…

Labels: ,


Ayo baca terus...

Sunday, September 07, 2008

Desain saya dipake orang tanpa bilang

Tanggal 6 september, tiba2 ada sms dari kawan saya. Isinya ngadu. "Ci, udah baca Lampung Post? Ada desain uchy yang dulu tahun 2006 di edisi khusus, dimuat di Lampost." Karena penasaran, saya cari koran. Yang ketemu bukan Lampost, tapi radar... Dan emang iya, ada desain saya di situ... Desain ucapan selamat menjalankan ibadah puasa. Rupanya pasangnya di iklan salah satu vendor KPR di Lampung. Bukan cuma pasang di Lampost, tapi Radar Lampung juga. (nb: dalam hal ini, yg salah bukan Lampost/Radar, karena mereka cuma sebagai tempat pemasangan iklannya ajah).


"Ci, telpon ada Lampostnya, bilang..." Ah, intinya kawan saya ini siy baik. Saya saja waktu ngeliat pertama kali heran, kok bisa2nya. Pakai desain, jiplaki plek, gak pake diubah, cuma diubah tanggal hijirahnya saja... Tanpa mencantumkan nama pembuatnya.

Eits, tunggu dulu. Sebelum ngedumel n nuntut macem2, ada baiknya introspeksi. Mungkin aja saya sembarangan posting gambar di blog saya ataupun tempat menyimpan gambar... Trus di copas sama orang tersebut, tanpa peduli dan tahu ada aturan yang 'sebaiknya' mencantumkan. Apalagi itu dipakai buat iklan komersil. Trus, saya introspeksi lagi, pernah gak ya saya begitu.

Yah, trus saya balas saja sms kawan saya itu, yang intinya, udahlah, gpp. Gak usah diurusin. Karena mereka dah pasang iklan kita, maunya mereka juga ngasih rumah gratis ke kita, hehe...

Selain itu, desain saya juga desain yang udah dipublikasi di Teknokra. So, jatuhnya Teknokralah yang semestinya (kalau perlu menuntut), yang bergerak. Selain itu lagi, itu kan desain ngucapin selamat menjalankan puasa... Ah, itung2 amal ibadah kan, hehe.

Bukan kali ini saja desain saya dipakai sembarangan. Buat undanganlah, buat neon box salah satu butik kecantikanlah, ataupun iklan itu tadi...

Hm, saya juga masih belajar, so, buat apa nuntut2an. Palingan dalem ati aja, pertama rasa bangga. Yang kedua, ngedumel, karena mungkin aja orang itu bahkan gak tau saya yang buat.

Ah, bener-bener... :)

Nah, berhubung sekarang sudah saya publish, silakan deh, dipake desain2 saya. Tapi tolong, yang buat komersil ya... :)

Buat KPRnya, kebetulan lagi cari rumah niy, hehe... :p (damai aja dah!)

Desain serupa pernah saya upload di http://zetyahardez.blogspot.com/2007_03_01_archive.html


Labels: ,


Ayo baca terus...

Thursday, September 04, 2008

Persahabatan yang Klise

Dulu, banyak yang mengagung-agungkan persahabatan. Menurut mereka, persahabatan itu tidak kenal lelah. Sahabat bersedia membantu. Sahabat bersedia bercerita. Dan yang pasti sahabat sudi mendengarkan dengan seksama.

Coba lihat kasus ini. Dua anak manusia yang dulunya akrab, berlawanan jenis, hingga saking akrabnya mereka yakin mereka takkan pernah punya hati satu sama lain. Sebut saja mereka sebagai Sahabat Satu dan Sahabat Dua. Waktu pun terus berjalan. Sahabat Satu lambat laun jenuh. Dia merasa bahwa apa yang selama ini mereka jalankan itu salah. Ini bukan sebuah kenyamanan yang diperbolehkan. Tapi Sahabat Satu limbung. Dia terus merahasiakan perasaannya ke Sahabat Dua yang perlahan mulai muncul.

Lalu...


Lalu suatu ketika, entah kenapa Sahabat Dua mulai merasa risih dengan kedekatan mereka. Mulai dari tetangga yang bergosip ria, hingga ke dilema pribadi yang mengatakan, "dia benar2 sahabatku. Sampai kapanpun. Takkan lebih dari itu." Akhirnya Sahabat Dua memutuskan untuk berbicara kepada Sahabat Satu.

"Sahabatku, aku tau kita merasa nyaman satu sama lain. Tapi ternyata realita berkata beda. Kedekatan kita tak bisa diteruskan, demi sebuah kemurnian hidup. Aku mohon, jaga jarak. Aku yakin kamu bisa dapat sahabat sejenis yang lebih baik dariku. Jika ada keperluan, aku masih bersedia membantu."

Titik.

Sahabat Satu diam. Dia memang bertanya kenapa, tapi hanya dalam hati. Dia hanya dapat bercerita kepada diarinya, bantal gulingnya, dan kepada dirinya sendiri. Ada apa? kenapa bersamaan? Pada saat Sahabat Satu mulai merasakan sesuatu yang lebih, Sahabat Dua seperti menangkap apa yang dirasa. Akhirnya mereka 'benar-benar' menjauh.

===
Dari kisah di atas, saya takkan menyimpulkan akhir ceritanya. Yang ingin saya pertanyakan adalah, benarkah kondisi di atas LAYAK disebut sebagai PERSAHABATAN?

Teman, Islam sudah membatasi pergaulan antara Wanita dan Pria dengan sangat sempurna. Aturan yang dibuat adalah untuk kemaslahatan, bukan kemadharatan. Sahabat dalam konteks Islam adalah mereka yang amal ma'ruf nahi munkar, saling menasehati dalam koridor yang dibatasi agama.

Cerita yang digambarkan diatas adalah salah dalam beberapa kondisi, di antaranya:
1. Mereka lain jenis. Konsep larangan berkhalwat terlanggar dalam kasus ini.
2. Mereka 'sok' yakin bahwa mereka takkan 'punya hati', dalam hal ini mereka berusaha untuk menentang naluri alamiah, fitrah mereka sebagai manusia, bahwa laki2 dan perempuan, adalah pasangan jiwa. Takkan menutup kemungkinan naluri itu muncul karena keadaan.
3. Mereka hidup di sistem yang sudah tak ada bedanya antara salah dan benar. Sehingga orang2 merasa 'biasa saja' melihat yang demikian. (Masih untung ada tetangga yang negor).

Kondisinya tidak sepenuhnya salah, ada benarnya juga kok. Seperti:
1. Mereka saling menasehati, jika kawan salah, ditegur.
2. Jika ada perlu, mereka berusaha saling bantu.

Islam, membatasi hubungan antara laki2 dan perempuan dalam beberapa konteks. Salah satunya adalah muamalah. Bukan hanya proses jual beli, namun keperluan. Seperti pinjam buku, minta obat, minta jasa, memberikan tabayyun/penjelasan terhadap suatu hal, dll. Tidak boleh membicarakan hal yang 'tidak penting' atau tidak ada urusannya.

Islam, juga tidak mewajibkan adanya hijab/kain batasan. Boleh berhadapan, asal mata tidak bertatapan. Jarakpun tidak boleh dekat2. Jangan khawatir ketika perempuan berbicara tidak kedengaran, karena Islam melarang perempuan melemahlembutkan suaranya. So, kalau perempuan bicara, harus tegas. Percuma saja kan, bila sudah dibatasi kain, ternyata jaraknya dekat sekali.

Dalam Islam dikenal istilah Ikhtilat (campur baur antara laki2 dan perempuan). Inilah yang paling sulit untuk dihindari, oleh orang yang paham sekalipun.

Nah, kamu merasa punya sahabat lawan jenis? Yakin bahwa yang kamu lakukan itu tidak salah? Yakin kenyamanan yang kamu rasakan itu adalah sesuatu yang halal? Yakin? Saya anjurkan kamu untuk berpikir ulang. :-)


Ayo baca terus...