◄ Vice Versa ►

Monday, February 27, 2006

Perempuan Itu Adalah Ibuku

Sebagai tugas Kursus Jurnalisme Sastrawi
Jumat – Minggu, 24 – 26 Pebruari 2006

Perempuan Itu adalah Ibuku

Oleh Suci Gizela Pertiwi



SUARA motor berhenti perlahan. Sesosok perempuan bertubuh mungil muncul dari balik pintu berwarna coklat. Ia hanya mengeluarkan setengah badannya, seperti hendak mengintip siapa yang datang. Mengenakan baju biru bercorakkan bunga-bunga, dengan rambut panjang ikal pirang. Ia pun tersenyum.
“Mama kirain Papa,” ujar perempuan itu.

Ya, perempuan berkulit hitam manis dan berparas cantik itu adalah mamaku. Rumah kami kosong, mama muncul dari balik pintu rumah tetangga kami, yang tak lain adalah saudara kami sendiri.

“Ma, minta kuncinya, dong. Uci mau masuk,” sahut saya. Mama langsung menghampiri, dan membukakan pintu rumah.

“Emang kursusnya udah selesai?” tanya Mama sambil duduk di bangku semen depan rumah.

“Belum. Sekarang Uci mau ngetik tugas. Disuruh wawancara dulu,” jawab saya sambil mendirikan motor dan menggemboknya.

“Ya udah, ya. Mama lagi masak nih,” ujar mama sambil berjalan cepat ke rumah saudara.

“Ma! Uci wawancara mama aja, yah. Bingung nyari siapa yang mau diwawancara,” tanya saya agak berteriak.

“Ah! Kayak apa aja pake wawancara-wawancaraan segala,” Mama tetap nyelonong masuk tanpa menghiraukan pertanyaan seriusku.

Itulah sosok mama saya. Setiap hari, dimana aktivitas dilakukan, papa bekerja, adik sekolah, kakak mengajar, dan saya sendiri yang sering keluyuran, mama selalu menyambut kepulangan kami. Namanya Elly Christiani. Banyak yang mengira mama adalah orang nonmuslim, karena mendengar namanya. Namun, mama bercerita bahwa nama Christiani sendiri diambil dari nama seorang suster yang membantu persalinan mbah putri. Mama dilahirkan di Jakarta, menetap di sana hingga kelas lima SD. Sehingga tidak heran, bila mendengar gaya dan penggunaan kata-katanya dalam berucap, tidak akan membuat orang menyangka bahwa mama adalah wanita keturunan Jawa.

Menikah pada usia muda, 19 tahun, membuatnya tampak muda hingga sekarang. Namun, mama perempuan hebat. Pintar memasak aneka masakan. Pintar menjahit, yang kadang setiap Lebaran, kami –saya dan kakak saya- tidak perlu membeli baju baru, karena mama telah membuatkannya. Juga pintar mengutak-atik barang elektronik. Pernah suatu ketika radio di rumah kami rusak, mama pun iseng membetulkannya. Dan hasilnya, radio itu bahkan bisa dihubungkan dengan VCD player, bahkan komputer.

Setelah selesai mandi dan beres-beres, saya pun menghampiri mama yang sedang memasak di rumah saudara. Mama memang sering memasak di sana, karena selain membantu, mama juga mengurusi anak tante yang masih kecil. Tasya namanya.

“Tasya, jangan dipegang itu! Panas! Ayo ke sana dulu!” tangan kanan mama tetap menggoreng ikan asin, dan tangan kirinya smamak menghalangi Tasya yang masih berumur satu setengah tahun itu.

“ta ta...” Tasya menyahut. Seperti mengerti Tasya pergi ke depan televisi. Menontonnya dan tertawa kecil ketika muncul iklan Pampers. Tasya memang penikmat iklan, ketimbang film di televisi.

“Ma, kapan nih wawancaranya?” tanya saya.

“Lu nih enggak ngeliat apa. Emak lu nih lagi ngegoreng. Lu pegang Tasya aja dulu,” ujar mama sambil mengambil botol merica dan menuangkannya ke dalam panci sup. Seraya menghela napas, saya berjalan menghampiri Tasya. Rumah saudara saya memang selalu sepi. Papa Tasya adalah penjaga counter hp, yang counter-nya sendiri jadi satu dengan rumah saudara. Namun, karena harus selalu stand by, maka Tasya tidak dapat terpegang. Sementara mamanya, saat itu kebetulan sedang mandi.

Tentu saja, saat itu saya berpikir, pasti akan sangat lama menunggu mama selesai masak. Tugas kursus jurnalisme sastrawi, yang difasilitatori oleh Kak Turyanto, seorang alumni Teknokra, tidak akan dapat saya selesaikan tepat waktu. Terbersit rasa menyesal ketika memutuskan untuk pulang dan mengerjakannya di rumah.

Tiba-tiba Tasya ngompol di kasur yang ada di depan televisi. Anak itu tidak menangis, malah tertawa seakan-akan meledek.

“Aduh! Mama, mama, Tasya ngompol nih!” Adu saya.

“Tolong diurusin dong Ut,” pinta mama. Namun, tiba-tiba mama berdecak. Sambil langsung mematikan kompor, mama menggendong Tasya dan membawanya ke kamar mandi. Saya melihat ke kompor, rupanya masakan sudah jadi. Tinggal di bereskan saja. Saya pun mengangkat panci sup, dan menuangkannya ke dalam dua mangkuk yang memang sudah disediakan. Satu untuk rumah saudara, dan satu lagi untuk rumah kami.

Selesai, mama menyuruhku untuk memakaikan celana Tasya. Dan mama kembali meneruskan tugasnya.

“Ut, papa udah pulang belum?” tanya mama.

“Memang kenapa Ma?”

“Motor Papa kan mogok. Makanya mama kira tadi waktu lu pulang itu papa.”

“Gak tau, belum kedengeran suara motornya.”

Tiba-tiba,

“Tin! Tin!” suara klakson motor papa dari arah pintu belakang. Benar saja. Papa pulang sambil mendorong mobilnya. Wajahnya keringatan, dan semakin tampak kelelahan di dalam seragam polisinya yang kesempitan. Papa sudah gendut. Wajar saja kalau kewalahan mendorong motornya, pikir saya.

“Ma, tolong ambilkan casan aki,” suruh papa. Mama langsung mengambilnya di atas lemari perkakas di garasi rumah saudara. Mama Tasya, sudah selesai mandi dan segera mengambil Tasya dari mama. Saya pun langung mengerti, setidaknya dapat membantu untuk membawa masakan ke rumah dan menatanya. Papa datang ke rumah.

“Ut, lu mau pergi gak?” tanya papa. Suaranya masih lelah.

“Iya Uci pergi lagi. Belum selesai kursusnya,” jawab saya.

“Ya udah, kalo gitu lu pergilah sekarang. Pusing papa ngeliat lu belum pergi,” sahut papa. Saya terkejut mendengarnya. Kenapa malah pusing? Mamapun tertawa, menghampiri saya sembari membisikkan bahwa sebetulnya motor mau dipinjam papa untuk beli aki.

“Oh... ngomong dong,” jawab saya sambil tersenyum.

“Udah gak usah. Lu buruan lah selesain tugas lu. Trus langsung pergi. Papa dah bete tuh,” nasihat mama.

“Jadi gak wawancaranya?” saya hanya tersenyum menanggapinya. Sudah ma, tidak perlu. Sepertinya saya sudah mendapatkan sedikit cerita yang dapat saya ketik dalam waktu singkat. []

2 comments:

|a said...

ini cerpen kan?? kayaknya, "jurnalisme sastrawi" tidak secair ini deh... kurang kental adonannya...

ZAKY ZETYA said...

Ia, thanks atas kritiknya. Itu buat tugas kursus jurnalisme kecil-kcilan. Di sebuah ruangan yang berisikan para aktivis yang keranjingan akan istilah baru, dengan harapan baru, ada sesuatu yang baru di jurnalisme Indonesia.

Ya, artikel itu masih jauh dari sebutan jurnalisme sastra. Pertama dari segi waktu, hanya sekitar dua jam kejadian dan beberapa menit tulisan. Entahlah. Setahun lewat, sampai sekarang saya masih belum paham jurnalisme sastra itu apa. :)